Social Icons

Pages

Senin, 19 Maret 2012

Jika Memang Dirimu lah Tulang Rusukku


“Rin, mungkin ini saat terakhir kita bisa bersama”  Lirih, tapi terdengar begitu meyakinkan.
 Samar-samar bulir kecil mulai menampakkan kemilaunya dari dua kelopak mata Rini saat Bagas mengucapkan kalimat itu.
“Tapi kita masih bisa bertemu kan Gas? Kita masih bisa saling bertukar kabar lewat telpon kan?” batin Rini berkecamuk, semua perasaan duka dan sakit saling beradu didalam dirinya.
“Aku tidak yakin hal itu Rin, mungkin aku akan terlalu sibuk disana. Kamu tahu kan, aku harus menggunakan beasiswa uliah diluar negeri ini dengan sebaik-baiknya. Aku ngga mungkin mengecewakan mereka, kedua orang tua dan para guru yang mendukung dan mendoakan aku sepenuhnya. “
“Aku mengerti itu Gas, tapi apa kamu ngga mau memberikan sedikit waktu untuk menelpon atau hanya memberikan kabar melalui pesang singkat kepadaku?” Tanya Rini penuh harap.
“Rini, dengan aku tidak memberikan kabar ke kamu bukan berarti aku melupakanmu. Aku akan terus mengingatmu, mengingat semua kenangan kita selama 3 tahun ini.” Jawab Bagas meyakinkan.
Rini tak bisa berkata apa-apa lagi, hatinya tersayat sembilu yang begitu dalam. Air matanya tumpah tak bisa terbendung lagi. Rini menangis dipangkuan Bagas, dipangkuan orang yang selalu ada dan menemaninya selama 3 tahun mereka bersekolah di SMA ini.
“Rin..” terdengar hentakan berat dari nada suara Bagas, seperti ada sesuatu yang terganjal dan tak sebenarnya tak ingin ia katakan.
Rini mengangkat wajahnya dan menatap kearah Bagas, sebuah ketenangan mulai ia rasakan saat itu. Ketenangan, kehangatan dan kenyamanan bersama Bagas.
“Jika nanti kamu kuliah dan butuh seseorang untuk melindungimu, jangan ragu untuk mencari sosok guardian itu dihidupmu. Aku tak akan melarangnya, aku justru akan berterimakasih kepada dia yang mau menjagamu saat aku tidak ada. Ketahuilah Rini, bagiku kebahagiaanmu itu adalah satu-satunya semangat dihidupku. Aku menyayangimu, sungguh sangat menyayangimu. Tapi aku tak mungkin membiarkan kamu hidup dalam kegalauan dan kehampaan saat aku diluar negeri nanti. Aku ingin kamu bahagia, aku ingin melihat kamu tertawa senang setiap hari.”
Rini terdiam, dia terpaku saat sebuah pelukan hangat Bagas mendekapnya saat itu juga. Antara bimbang dan galau, Rini tak kuasa menahan air matanya, air mata sedih dan bahagia karena sosok seorang Bagas yang saat ini ia miliki.
“Rini sayang, jika memang Tuhan menakdirkan kamu untuk menjadi pelengkap tulang rusukku. Percayalah kalau kita pasti akan bertemu disuatu hari nanti, ditempat yang sangat indah dan penuh dengan kebahagiaan, yaitu pernikahan. Saat itu tak ada lagi yang bisa memisahkan kita selalin maut. Aku berjanji jika saat itu telah tiba, aku tak akan pernanh membiarkan kamu sendiri lagi dan mencari penjaga yang lain. Aku akan selalu bersama dan menjagamu semampuku, hingga waktu ku tlah berakhir.”
Sore itu begitu indah tapi penuh dengan kepedihan. Sore terakhir mereka mengenakan seragam putih-abuabu yang penuh dengan berbagai cerita cinta didalamnya. Terakhir kalinya pula kebersamaan itu hadir diantara mereka, karena besok Bagas sudah harus berangkat ke Australia untuk meneruskan kuliahnya.

~.~
Tahun-tahun pertama kuliah terlewati sudah, sosok Rini masih menjadi yang pertama dihati Bagas. Kerinduan itu memang sering hadir, tapi Bagas selalu mengurungkan niatnya untuk menghubungi Rini. Dia takut kalau hal itu akan membuat Rini semakin memikirkannya dan tak bisa terlepas dari bayang seorang Bagas.
Sementara dilain benua, lain wilayah, cuaca dan keadaan.  Rini sedang asyik mengobrol dengan seorang laki-laki yang selama awal masuk kuliah telah menjadi teman dekatnya dan orang yang selalu menemaninya selama ini.  sedikit demi sedikit posisi seorang Bagas pun mulai tergeser oleh sosok Alan.
Rini mulai merasa nyaman dengan kehadiran Alan selama 2,5 tahun ini. Tak jarang sosok Bagas mulai terlupakan seiring berjalannya waktu dan seiring kebersamaan antara Rini dan Alan semakin erat. Rini pun sekarang semakin bergantung kepada sosok Alan, seperti apa yang dikatakan Bagas dulu, jangan ragu untuk mencari sosok guardian itu dihidupmu . Rini merasa biasa saja dengan hal ini, dengan kebahagiaannya sekarang tanpa memikirkan bagaimana perasaan Bagas yang menyimpan sejuta rindu untuknya.
~.~
Tak terasa 5 tahun sudah sejak saat dimana perpisahan Bagas dan Rini untuk menempuh cita-citanya masing-masing itu terukir.
Sore itu, Bagas tiba di Indonesia tanpa memberi tahukannya kepada Rini. Dengan perasaan yang sangat bahagia Bagas mengendarai mobil yang sudah dipersiapkan untuknya menuju sebuah rumah yang selalu terbayang dibenaknya. Rumah yang selalu ia datangi semasa SMA dulu.
Tapi, waktu sekarang tak sama lagi dengan waktu dahulu, perasaan sekarang pun mungkin sudah berbeda dengan perasaan dahulu. Bagas tiba didepan rumah Rini saat ada seorang laki-laki yang siap membuka kan pintu mobil untuknya. Ya, saat itu Rini dan Alan sedang bersiap untuk makan malam bersama disebuah restoran. Tanpa Rini tahu kalau mobil yang berhenti tidak jauh dibelakang mobil Alan adalah mobil seorang guardian angel yang benar-benar selalu menjaga dan mendoakannya walaupun ia jauh.
Bagas tersenyum melihatnya, sedikit ada getaran pedih dihatinya melihat hal itu. Tapi apalah daya, dia tak bisa melarang ini semua terjadi. Karena dia jualah yang menyuruh Rini untuk mencari penggantinya saat dia pergi keluar negeri. Melihat mobil yang dinaiki Rini bersama laki-laki itu telah berjalan menjauh. Bagas pun berniat untuk mampir sebentar kerumah Rini, walau hanya sekadar bertemu kedua orangtua Rini.
“Assalamuaikum..” Ucap Bagas didepan pintu rumah Rini.
“Wa’alaikumsalam” Terdengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinga Bagas sejak SMA dulu.
“Nak Bagas.. kapan datang? Ayo masuk dulu..” kata seorang wanita itu saat melihat siapa yang ada didepan pintu rumahnya petang itu.
Bagas pun memasuki sebuah ruangan yang selalu menemaninya saat menunggu Rini bersiap untuk pergi kencan dulu. Ruangan yang tidak begitu luas tapi penuh makna dalam dihati Bagas.
“Baru tadi sore tan.. Rini nya ada?” Tanya Bagas berbasa-basi saat dipersilakan duduk disebuah sofa yang tak ada bedanya dengan sofa 5 tahun lalu.
“Yaaah.. Rini baru tadi pergi sama nak Alan.. mau makan malam bersama katanya.. memangnya nak Bagas ngga bilang dulu sama Rini kalau mau mapir kerumah?” tanya tante Dela, ibunda Rini heran.
“Ngga tante.. aku tadi niatnya mau ngasih surprise sama Rini saat pulang.. tapi, yah.. ngga papa deh kalau begini. Aku boleh titip sesuatu ngga tan?” ucap Bagas lemah.
“Maaf yaa nak Bagas..”
“Iya tan.. ngga papa” ucap Bagas seraya menyerahkan sebuah bingkisian berbungkus plastik merah jambu.
~.~
Malam itu, diteras rumahnya. Pikiran Bagas kembali menerawang jauh kemasa lalu, masa dimana mereka masing mengenakan seragam putih – abu abu itu, masa dimana mereka selalu terlihat bersama dalam suka dan duka. Masa itu hanya menjadi kenangan  dan takkan pernah kembali lagi. melihat Rini yang terlihat begitu bahagia sore tadi bersama Alan membuat Bagas pupus dan letih untuk mengharapkan Rini sebagai pasangan dari tulang rusuknya yang hilang itu.
Ditempat yang berbeda pada waktu yang sama. Rini terdiam, terpaku dan tak kuasa menahan air matanya. Sebuah boneka hello kitty berwarna pink yang dulu ia inginkan saat kelas 3 SMA terwujud sudah. Barang yang sebenarnya sudah tidak ia inginkan lagi itu kini kembali muncul menghadirkan sejuta kenangan indah tentang masa lalu dimana ia dan Bagas bersama.
Ia ingat betul saat Bagas berjanji akan membelikannya boneka hello kitty jika Rini berhasil mendapatkan nilai ulangan fisika tertinggi dikelasnya. Tapi hingga mereka lulus SMA pun, Bagas belum bisa memberikan hadiah itu karena uang yang dia miliki selalu tidak mencukupi untuk membelikan boneka tersebut.
Rini menyesal telah melupakan Bagas selama ini, Rini menyesal telah membagi cintanya untuk yang lain. Kare disatu sisi Rini sangat ingin kembali dengan Bagas, tapi disisi lain Rini juga tidak ingin kehilangan Alan.
~.~
3 tahun berlalu sejak kepulangan Bagas dari luar negeri. Sekarang, Bagas pun sudah bekerja di sebuah perusahaan terkenal di kotanya. Semua kenangan tentang Rini pun Bagas simpan dalam hatinya yang terdalam, seakan tak ingin mengungkit masa itu lagi.
Tapi, tulang rusuk itu seakan tidak akan pernah mau menerima pasangan dari tulang rusuk yang lain. Telah banyak wanita yang mendekati dan mencoba untuk  Bagas dekati. Tapi tetap tidak ada yang bisa menggantikan Rini dihatinya. Rini selalu dan akan selalu ada didalam hatinya, dipikirannya dan setiap doanya.
Hingga sampai pada saat dimana Bagas tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan perasaannya ini. Rasa yang tak akan hilang walau selalu ia coba untuk menghilangkannya. Bagas pun terdiam disebuah taman kecil didekat kantor tempat ia bekerja. Dengan sejuknya udara pagi itu, Bagas yakin kalau hatinya ini takkan pernah berbohong.
Tiba-tiba, ditengah lamunan Bagas akan sosok Rini selama ia bersama dulu, terdenga suara yang sudah lama tak ia dengar.
“Bagas.. kamu Bagas kan?” ucap wanita itu seraya memukul pundak Bagas.
“Rin.. Rinii” Ucapan Bagas terdengan begitu sarat dengan getaran. Bagaimana tidak, karena orang yang 3 tahun ini tak pernah ia temui lagi itu sekarang ada dihadapannya. Rini.
“Maaf, boleh aku duduk disebelah kamu?” tanya Rini hati-hati
“Silakan” jawab Bagas senang.
“Sudah lama yah kita ngga ketemu, kamu kerja dimana?”
Seakan tak mendengarkan apa yang dikatan oleh Rini, Bagas terus memandangi wajah Rini, memandangi betapa ia rindu akan senyum dan tawa dari orang yang ada dihadapannya sekarang ini.
“Gas.. kamu dengerin aku ngga sih?” Tanya Rini dengan kesal
“Rin, aku boleh jujur ngga sama kamu?” Ucap Bagas memecah kebisuannya.
“Apa?”
“Aku masih sangat sayang kamu, masih sangat mencintai kamu dan masih berusaha untuk selalu melindungimu, walaupun hanya lewat doa.. Rin.. masih kah ada celah yang tersisa dihatimu untuk aku?” Tanya Bagas mantab.
“Bagas.. selama ini aku mencarimu, aku selalu mencari keberadaanmu. Setelah kau pergi begitu saja dari rumahku 3 tahun yang lalu dan tak pernanh kasih kabar ke aku lagi. Saat itu aku sadar Gas, orang yang benar-benar sayang dan cinta sama aku itu hanya kamu. Aku tak pernah lagi ingin mencari seorang guardian, karena aku yakin my guardian it’s you. Karena hanya kamu yang bisa membuat ku nyaman, tenang dan damai Gas.”
 “Ternyata benar, pasangan tulang rusukku itu kamu Rin..” ucap bagas lirih
Mereka pun akhirnya berpelukan. Pelukan yang kembali terasa hangat setelah adanya musim dingin berkepanjangan selama 8 tahun bagi Bagas dan Rini. Diiringi tangis air mata bahagia dari keduanya.